Korban Perasaan

November 8, 2011

Di FB dalam rangka menyambut Idul Adha aku buat status “Tahun ini cuma bisa ‘Korban Perasaan’, mudah-mudahan kesabaran ini sama besar pahalanya dengan Korban Onta.. Tapi yg jadi masalah adalah apa mungkin ‘perasaan’ bisa jadi kendaraan ke Surga?! Hmm.. *mikir berat”, setelah itu ada SMS masuk, “Korban Perasaan! Maksudnya??”.

Susah menjelaskan kayak gimana sih korban perasaan tuh. Kalo korban-korban yang lain tentu ada wujudnya, tapi kalo korban perasaan gak keliatan wujudnya, dia mengendap dalam hati tak terjangkau. Secara kasar bisa diambil salah satu contohnya dari cerita berikut:

“Ada seorang anak muda (kita beri jenis kelaminnya Laki-laki aja), merasa iba melihat seorang tua (kita tandai berjenis kelamin perempuan, artinya Nenek-nenek) yang hendak menyebrang jalan pada saat lalu lintas sedang padat-padatnya di tempat yang memang tidak diperuntukan buat menyebrang jalan. Secara aturan si Nenek tersebut salah karena menyebrang jalan tidak pada Zebra Cross. Tapi bukan itu intinya. Mungkin karena merasa iba atau merasa seperti melihat orang tua sendiri, akhirnya anak muda tersebut membantu menyebrangkan nenek-nenek tersebut. Dengan tangan kanan memapah si Nenek, dan tangan kiri terangkat meminta jalan pada pengendara mobil/motor yang saling berebut mengisi ruas jalan yang kosong, dan karena si nenek memang sudah tidak gesit lagi dengan jalan yang terseok-seok karena motorik kaki terlambat memberikan respon, maka proses menyebrangkan si nenek tersebut menjadi sangat lambat. Kendaraan terdepan terhenti untuk memberikan jalan bagi si Nenek. Akibatnya terjadi kemacetan. Lalu ada sopir angkot teriak ‘Eh Monyet! kalo nyebrang jalan yang bener!!’”

Dari ilustrasi diatas, sudah bisa anda simpulkan, disalahkan terhadap sesuatu yang menurut kita benar. Akibatnya: Korban Perasaan..


Analogi Metamorfosis Kupu2

November 4, 2011

Banyak sekali kisah tauladan dan penuh hikmah yang dapat kita ambil dari metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Salah satunya kisah yang sedang anda baca ini, kisah ini mungkin tidak asing bagi anda, tapi bagi saya, kisah ini sangat luar biasa apalagi saya mendengarnya langsung dari seorang direktur sebuah perguruan tinggi saat gathering penerimaan dosen baru. Begini kisahnya:

“Dalam suatu laboratorium biologi, peneliti yang kebanyakan anak muda sedang meneliti proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu. Kupu-kupu memiliki siklus hidup yang unik. Siklus hidup itu terdiri dari empat tahap yaitu: telur, ulat (larva), pupa, dan imago (dewasa). Ada ulat yang sengaja disiapkan untuk penelitian itu. Awalnya peneltian berjalan sangat membosankan, hanya memperhatikan ulat yang menghabiskan waktunya untuk memakan dedaunan. Hingga kemudian ulat tersebut berpuasa dan menyembunyikan dirinya dalam kepompong. Suatu hari lubang kecil muncul di ujung kepompong. Para peneliti muda itu memperhatikan dalam beberapa jam saat calon kupu-kupu itu berjuang memaksakan dirinya melewati lubang kecil tersebut. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya kupu-kupu itu telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa maju lebih jauh lagi. Akhirnya salah seorang dari peneliti tersebut memutuskan untuk membantu si calon kupu-kupu tersebut, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Setelah itu calon Kupu-kupu itu keluar dengan mudahnya. Namun ternyata, setelah dibebaskan dari kepompong dengan cara yang tak alami, ulat itu berubah menjadi kupu-kupu dengan tubuh gemuk dan kecil serta sayap-sayapnya mengkerut. Peneliti itu mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuh kupu-kupu itu, yang mungkin akan berkembang. Namun semuanya tidak pernah terjadi. Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Kupu-kupu itu tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat dan perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari kupu-kupu itu masuk ke dalam sayap-sayapnya sedemikian rupa sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang. Saat kita meminta kekuatan, tuhan memberi kita kesulitan-kesulitan untuk membuat kita menjadi kuat. Saat kita meminta kebijakan, tuhan memberi kita persoalan untuk diselesaikan. Saat kita memohon kemakmuran, tuhan memberi kita otak dan tenaga untuk bekerja. Saat kita memohon keteguhan hati, tuhan memberi kita bahaya untuk diatasi. Saat kita meminta kemurahan hati, tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan, Saat kita memohon cinta, tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk ditolong, Saat kita tidak mendapat yang kita inginkan, tuhan memberi segala yang kita butuhkan..”

Saya melihat cerita di atas dari dua sisi, yaitu dari sisi Religi dan dari sisi Edukasi. Dari sisi Religi sangat terlihat jelas, bahwa perlu ikhtiar untuk mendapat apa yang kita inginkan. Selain itu, cerita tersebut bisa dijadikan jawaban sederhana mengenai pertanyaan mengapa kita berpuasa. Bagaimana jika dilihat dari sisi Edukasi?? Saya akan bercerita secara implisit, Anggap saja proses metamorfosis tersebut adalah bagian dari proses pendidikan di PT. Kadang kita (sebagai pengajar) -dan tidak semua pengajar seperti ini- terlalu bermurah hati dalam memberikan assessment terhadap siswa. Kurang memberikan tantangan kepada siswa bahkan terkesan terlalu disuapi, dan selalu mendahulukan kuantitas dibandingkan kualitas. Akibatnya, banyak lulusan dari PT yang hanya sekedar lulus saja sehingga tidak bisa bersaing di dunia kerja. Ini masalah klise yang harus diselesaikan. Selain berharap menghasilkan lulusan yang cepat bekerja, perlu juga disiapkan faktor-faktor pendukung lainya. Contohnya adalah menyiapkan daun-daun terbaik untuk dimakan ulat. Membiarkan ulat bermetamorfosis sesuai kemampuannya bukan dengan cara didongkrak dan dipaksa untuk keluar. Tujuannya apa?? Agar mereka bisa terbang layaknya kupu-kupu dengan sayap berwarna-warni, membawa ilmu pengetahuan ke peradaban yang lebih tinggi lagi.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.